Aku
adalah seragam SMA, kemeja putih polos dan siap dikotori pilox warna saat
pemiliku lulus nanti.
Aku
adalah seragam SMA symbol masa
Dibagian
dada tertempel atribut osis sebagai lambang kaum berpendidikan, sengaja lambang
itu di simpan di bagian dada agar selalu dekat dengan hati pemakainya, ya dulu
aku memang pernah merasa bahwa aku di buat sedemikian rapi dan berwibawa, di
pakai para generasi muda untuk menunjang prestasi dan meraih mimpi mereka yang
jauh diatas bintang.
Aku
tidak seperti seragam SD atau SMP, yang pemiliknya selalu pulang tepat waktu
dan patuh pada aturan rumah, pemiliku lebih dewasa dan kritis. Terkadang mereka
berbohong mengaku kerja kelompok padahal nongkrong dengan teman atau kencan
dengan kenalan baru,
Aku
sempat berpikir bahwa kelak setelah aku puas menyerap keringat prestasi, aku
akan berfoto dengan tropi atau mendali.
Tapi
rupanya di Koran aku menemukan bangsaku terkoyak, sobek bahkan berlumuran darah
karena tawuran antar pelajar atau kecelakaan balapan liar, sementara seragam
yang lain ku temukan kotor dan bau terkena bir oplosan, asap rokok serta
muntahan sisa pengalaman maut pertama, banyak pula saku-saku yang terpaksa menyembunyikan
obat-obat terlarang, padahal bukan itu harapan seragam SMA , Nasib ku sendiri
ternyata lebih memalukan, aku di lucuti, dilemparnya, aku malu sekali melihat pemiliku
berzina, Tapi apalah dayaku ini yang hanya selembar seragam.
Aku
ingat betul bahwa dulu aku di buat oleh seorang ibu dengan sepenuh hati, tak
tanggung-tanggung, dua hari dua malam aku di jahit demi anak kesayangannya,
dengan setiap tusukan jarum dan bintalan benang di tubuhku, tertanam harapan
sang ibu. Katanya “ pergilah kau ke tempat-tempat
baru anaku, bertemanlah dengan orang-orang baru, tumbuhlah menjadi dewasa, tapi
ingat, semakin tinggi sebatang pohon semakin besar pula angin yang mengguncang,
tak usah takut kalah dan ragu di hantam badai, ingatlah bahwa engkau punya akar
yang kokoh, akar iman dan islam, jadilah manusia yang mulia apapun yang terjadi.
Kini
aku tak lagi berani berharap, semakin jauh bayanganku untuk berfoto dan
berkenalan dengan piala atau mendali, bukan hanya masa depan pemiliku saja yang
hancur, tapi perasaan sang ibu yang menciptakan ku juga,rasanya aku ingin bunuh
diri saat mengetahui sang ibu yang menjeritku, kini meringkuk di sebuah kamar,
sang ibu mengalami sebuah episode yang di sebut skizet, mengerikan sekali, sang
ibu kini tak bisa merasakan emosi sedikit pun, ini lebih menderita dari pada
marah, malu atau kecewa.
Percuma
saja pemiliku memintak maaf dan menyesal, karena itu tak akan merubah harapan
menjadi perawan kembali
Aku
hanyalah satu dari seragam sejenisku yang tak bisa berbuat banyak, semoga
generasi muda selanjutnya lebih sadar akan harapan suci kami,
Akulah
seragam sma, berupa kemeja putih polos dan siap dikotori pilox warna saat
pemiliku lulus nanti.
Untuk generasi muda
Indonesia yang lebih baik dan berprestasi.

